4
(Empat) Pilar Belum Sepenuhnya Diimplementasikan Secara Luas
Pilar/Tiang adalah penyangga
sesuatu, dalam konteks bernegara “pilar” adalah penyangga keutuhan sebuah Negara
yang didalamnya ada 4 (empat) dan terdiri dari (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka
Tunggal Ika) yang terus “mewujud” mengokohkan keberadaan Negara. 4 (empat) pilar tersebut “menyatu” di jiwa
anak bangsa. 4 (empat) pilar menjadi “alat” kemajuan bangsa ke depan. Tentunya butuh proses pendidikan dalam
mensosialisasikan keteladanan yang bersumber dari komunitas pemuda yang
notabene sebagai “agent of change” dan kontrol sosial. Selain itu, Pemerintah
yang dalam hal ini Kemenpora RI harus terus membina, mengembangkan, dan
memfasilitasi pemuda/OKP dalam mengimplementasikan 4 (empat) pilar kepada masyarakat
dan secara khusus generasi muda dengan cara yang inovatif, kreatif, dan atrakif. 4 (empat) pilar tersebut
belum sepenuhnya dapat diimplementasikan secara luas oleh anak bangsa. Dan
perlu diketahui bersama bahwa satu kekuatan yang menjadi “motivasi” bagi NKRI
adalah “nasionalisme”. Mekanisme dan jalur didalam bernegara harus melalui
sebuah proses yang terbingkai pada jiwa “nasionalisme” secara total. Harus ada
semangat juang “bela Negara” dalam arti yang luas. Masalahnya sekarang adalah
generasi muda maunya “instan” dalam melakukan berbagai hal, sehingga secara tak
sadar mulai memupuskan nilai-nilai inti (kejujuran dan kesabaran) dalam
bertindak. Pemuda harus segera “back to basic” dengan mengingat kembali
perjuangan “founding father” dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Hari esok
harus lebih baik dari hari kemarin. Apresiasi tinggi kepada
pendiri bangsa. Pilar tidak hanya “tiang” tapi “landasan” berdirinya NKRI.
Kalau memang anak bangsa terus menyelenggarakan dan mensosialisasikan 4 (empat)
pilar secara “benar” maka semua harus “terbuka” dalam menciptakan kedaulatan
yang tidak kebablasan, berdikari ekonomi, berkepribadian dalam berbudaya. Jika
semua hal itu tidak dilakukan dengan benar, maka Indonesia akan hilang dalam
peta dunia. Sekarang krisis multidimensi melanda yang didukung dengan gencarnya
media yang “kapitalisasi”. Ketika “kapitalisasi” menjadi “tuhan”, maka Negara akan
terseok-seok dalam perjalanannya. Kini “tuhan” tak lagi kuasa, akan tetapi “uang”
yang maha kuasa. Namun, semua itu terdapat
kendala yang “realistis” ketika dijalankan. Anak bangsa kini, cenderung “terkontaminasi”
era global. Dengan demikian, tentunya 4 (empat) pilar “wajib” serta menjadi
suatu keharusan disosialisasikan, terutama oleh pemuda ketengah-tengah
masyarakat melalui pendekatan structural dan pendekatan cultural. Dengan
mensosialisasikan 4 (empat) pilar ini melalui “dunia maya” serta turut
melibatkan para seniman/budayawan dalam rangka membangun bangsa. Hal ini
seharusnya dapat dijadikan “senjata” kekuatan NKRI ke depan. (ziz)
(Sumber : Kegiatan
Sosialisasi 4 (Empat) Pilar Kemenpora RI, Studio 7 TVRI, 18-9-2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar